Sorotan:
- Trump kritik serangan Israel ke Lebanon usai kesepakatan damai AS-Iran diteken
- Laporan WSJ dan Axios sebut hubungan kedua pemimpin memanas lewat telepon
- Israel tegaskan tetap pertahankan pasukan di Gaza, Lebanon, dan Suriah
Washington — Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik terbuka kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait serangan militer ke Lebanon, sehari setelah kesepakatan damai AS-Iran diteken pada pertengahan Juni 2026 ini.
Konteks: Mengapa Ini Penting?

Ketegangan ini muncul tepat setelah Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang mengakhiri perang terbuka di Timur Tengah. Dalam kesepakatan itu, Iran setuju membuka kembali Selat Hormuz secara penuh, sementara AS sepakat menghentikan blokade dan mengizinkan Iran kembali menjual minyaknya di pasar internasional. Pembahasan soal pembongkaran program nuklir Iran sendiri ditunda 60 hari ke depan.
Masalahnya, Israel tidak merasa terikat dengan ketentuan dalam MoU tersebut — termasuk poin yang memperluas gencatan senjata ke Lebanon. Pemerintah Netanyahu menegaskan akan tetap menjaga operasi militernya di Gaza, Lebanon, dan Suriah meski kesepakatan AS-Iran sudah berjalan.
“Kenapa kamu menghancurkan gedung-gedung? Berhenti menghancurkan gedung-gedung.” — Donald Trump, dikutip dari laporan The Wall Street Journal (17 Juni 2026)
Menurut laporan WSJ yang dikutip Kompas, Trump yang berupaya mendorong kesepakatan damai mulai frustrasi karena Netanyahu justru ingin melanjutkan tekanan militer terhadap Lebanon.
Reaksi dan Dampak
Laporan Axios yang dikutip The Telegraph menyebut perbedaan ini sempat memuncak lewat panggilan telepon antara kedua pemimpin awal Juni 2026, di mana Trump menyatakan hanya akan kembali mendukung perundingan jika Israel menghentikan serangan ke Lebanon dan Gaza. Seorang pejabat AS yang mengetahui isi pembicaraan tersebut mengatakan Trump memperingatkan bahwa melanjutkan rencana pengeboman Lebanon hanya akan membuat Israel semakin terisolasi di panggung internasional.
“Saya menganggapnya hebat, tetapi terkadang dia terbawa suasana.” — Donald Trump, dalam konferensi pers di sela-sela KTT G7 (17 Juni 2026), dikutip dari Liputan6/Times of Israel
Meski melontarkan kritik, Trump tetap menyebut Netanyahu sebagai pemimpin yang kuat dan menegaskan hubungan AS-Israel tetap berupa kemitraan erat. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sendiri menegaskan kesepakatan damai mewajibkan penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon — sebuah tuntutan yang menjadi sumber gesekan baru antara Washington dan Tel Aviv.
Keretakan ini sebenarnya bukan hal baru. Pada Maret 2026, Trump sempat secara terbuka mengaku telah memperingatkan Netanyahu agar tidak menyerang ladang gas strategis Iran di Pars Selatan, di tengah eskalasi konflik yang saat itu juga menyeret negara-negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Pola yang sama kembali terlihat tiga bulan kemudian: Washington mendorong de-eskalasi, sementara Tel Aviv cenderung memilih opsi militer.
Trump juga sempat mengungkit kembali operasi penghapusan Komandan Pasukan Quds Iran, Qassem Soleimani, pada 2020, dalam konferensi pers di sela KTT G7. Menurutnya, Israel awalnya berencana ikut serta dalam operasi tersebut namun membatalkannya pada saat-saat terakhir, sehingga AS akhirnya menjalankannya sendiri. Pernyataan ini dibaca sejumlah analis sebagai sindiran halus Trump kepada Netanyahu di tengah kritik publik terhadap keputusannya berdamai dengan Iran.
Sikap Israel dan Risiko Lebanon

Penolakan Israel terhadap sejumlah ketentuan MoU AS-Iran tidak lepas dari isi dokumen yang memperluas gencatan senjata hingga mencakup Lebanon, serta menegaskan pentingnya menjaga integritas wilayah dan kedaulatan negara tersebut. Pemerintah Israel sebelumnya menyatakan tidak merasa terikat dengan pengaturan itu.
Kelompok Hizbullah di Lebanon turut merespons dinamika ini. Pihak media Hizbullah mengeklaim telah menerima jaminan dari Iran bahwa tuntutan penarikan pasukan Israel akan menjadi agenda utama dalam fase negosiasi berikutnya dengan AS. Sementara itu, analis kawasan Ahron Bregman memprediksi Lebanon berpotensi menjadi pemicu babak konfrontasi baru antara Israel dan Iran, mengingat posisi geografis dan kendali Iran atas Selat Hormuz tetap menjadi senjata ekonomi yang kuat.
Apa Selanjutnya?

Masa depan kesepakatan AS-Iran kini bergantung pada apakah Israel bersedia menahan operasi militernya di Lebanon dalam 60 hari masa tunda pembahasan program nuklir. Jika Tel Aviv terus melanjutkan serangan tanpa restu penuh dari Washington, risiko keretakan yang lebih dalam antara dua sekutu lama ini dinilai akan semakin nyata — sekaligus mengancam keberlangsungan MoU yang baru beberapa hari diteken.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan langsung lewat jalur energi: pembukaan kembali Selat Hormuz untuk ekspor minyak Iran berpotensi memengaruhi harga energi global, termasuk biaya impor LPG yang selama ini jadi beban subsidi pemerintah. Langkah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang sempat mendorong efisiensi impor LPG hingga 70 persen jadi semakin relevan di tengah ketidakpastian pasokan energi Timur Tengah ini — terutama jika eskalasi di Lebanon kembali mengganggu stabilitas jalur distribusi minyak global.
Pertanyaan Seputar Ketegangan Trump-Netanyahu
Apa isi kesepakatan damai AS-Iran? Iran sepakat membuka kembali Selat Hormuz secara penuh, sementara AS menghentikan blokade dan mengizinkan Iran kembali menjual minyaknya di pasar internasional. Pembahasan pembongkaran program nuklir Iran ditunda 60 hari.
Mengapa Israel menolak sebagian isi MoU? Karena dokumen tersebut memperluas gencatan senjata hingga mencakup Lebanon dan menegaskan kedaulatan wilayah negara itu — poin yang dianggap membatasi operasi militer Israel terhadap Hizbullah.
Apakah hubungan AS-Israel benar-benar putus? Belum. Trump tetap menyebut Netanyahu sebagai pemimpin kuat dan menegaskan kemitraan AS-Israel masih erat, meski kritik terbuka soal Lebanon menunjukkan adanya gesekan nyata.
Sumber
- Hubungan Trump-Netanyahu Terguncang akibat Perang Iran, Percakapan Rahasia Terungkap — Kompas.com, via WSJ (18/6/2026)
- Trump Caci Maki Netanyahu soal Serangan ke Beirut, Hubungan AS-Israel Retak? — Kompas.com, via Axios/The Telegraph (1-2/6/2026)
- Trump Sindir Netanyahu Usai Damai dengan Iran — Liputan6.com, via Times of Israel (17-18/6/2026)
- Hubungan Trump-Netanyahu Retak, Donald Trump Kritik Serangan Israel ke Libanon — Media Indonesia (pertengahan Juni 2026)
- Hubungan Trump vs Netanyahu Retak, AS dan Israel Mulai Berselisih di Tengah Perang Iran — fin.co.id (20/3/2026)
- Deal AS-Iran Guncang Israel, Netanyahu Mendadak di Ujung Tanduk — CNBC Indonesia, analisis Ahron Bregman (17/6/2026)
