Ringkasan Cepat:
- Pilot asal Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, tewas ditembak milisi TPNPB-OPM di Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis (2/7/2026)
- Direktur YKKMP menilai penembakan itu melanggar prinsip dasar Hukum Humaniter Internasional karena menyasar warga sipil
- Menko Polkam Djamari Chaniago mengecam keras insiden ini dan menegaskan pemerintah tidak akan menoleransi kekerasan terhadap penerbangan sipil di Papua
Jakarta, 04 Juli 2026 — Penembakan terhadap pilot asal Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, di Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, pada Kamis (2/7/2026), dinilai melanggar prinsip dasar Hukum Humaniter Internasional karena pilot sipil dianggap tidak boleh dijadikan sasaran serangan bersenjata.
Mengapa Ini Penting?

Goselin adalah pilot pesawat perintis milik PT Associated Mission Aviation (AMA) yang melayani rute-rute pedalaman Papua. Pesawat jenis Pilatus Porter dengan registrasi PK-RCY yang ia terbangkan membawa satu pilot dan tujuh penumpang saat mendarat di Lapangan Terbang Ipdeheik, Kampung Balinggama, sekitar pukul 06.46 WIT.
Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP), Theo Hesegem, menegaskan bahwa pilot sipil seperti Goselin tidak terlibat langsung dalam permusuhan sehingga berhak mendapat perlindungan sebagai warga sipil. Penerbangan perintis semacam ini, menurutnya, krusial untuk menjaga akses distribusi logistik, layanan kesehatan, dan pendidikan di wilayah pegunungan Papua yang sulit dijangkau lewat jalur darat — sebuah kompleksitas keamanan yang juga tampak dalam pola kekerasan bersenjata di berbagai belahan dunia yang menyeret korban sipil.
“Setiap serangan terhadap warga sipil tidak hanya memperdalam trauma masyarakat Papua, tetapi juga menghambat upaya penyelesaian damai.” — Theo Hesegem, Direktur Eksekutif YKKMP, 4 Juli 2026
Kronologi dan Klaim Pelaku Penembakan Pilot AS

Juru bicara markas pusat TPNPB, Sebby Sambom, mengonfirmasi bahwa penembakan dan pembakaran pesawat dilakukan oleh milisi TPNPB Kodap XVI Yahukimo pimpinan Elkius Kobak. Kelompok ini menyebut aksinya sebagai ultimatum agar maskapai Indonesia berhenti terbang di wilayah yang mereka klaim sebagai zona operasi bersenjata.
“Kami tembak sebagai ultimatum agar tidak ada lagi maskapai Indonesia yang terbang di tanah Papua.” — Sebby Sambom, Juru Bicara TPNPB-OPM, 3 Juli 2026
Sambom menuduh maskapai sipil, termasuk PT AMA, kerap dipakai TNI untuk mengangkut personel dan logistik ke pedalaman Papua — tuduhan yang dibantah pemerintah Indonesia, yang menegaskan pesawat tersebut murni melayani kebutuhan sipil masyarakat setempat.
Kronologi Peristiwa

| Waktu | Kejadian | Sumber |
|---|---|---|
| Kamis, 2/7/2026, 06.30 WIT | Pesawat PK-RCY lepas landas dari Bandara Wamena | Kogabwilhan III (Tempo) |
| Kamis, 2/7/2026, 06.46 WIT | Pesawat mendarat di Lapangan Terbang Ipdeheik, Balinggama | Kogabwilhan III (Tempo) |
| Kamis, 2/7/2026, ~06.50 WIT | Milisi TPNPB menembak pilot dan membakar pesawat | TNI, Antara |
| Jumat, 3/7/2026, ~08.00 WIT | Koops TNI Habema evakuasi jenazah dengan 10 personel dan dua helikopter Caracal | Koops TNI Habema |
| Jumat, 3/7/2026 | Jenazah diserahkan ke keluarga dan PT AMA di Timika | TNI (GEBRAK.ID) |
Reaksi dan Respons Pemerintah Penembakan Pilot AS

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, mengecam keras insiden ini dan menyampaikan duka cita kepada keluarga korban.
“Pemerintah tidak akan menoleransi segala bentuk kekerasan dan tindakan keji terhadap masyarakat maupun sarana transportasi udara yang menjadi urat nadi pelayanan bagi kehidupan masyarakat di Papua.” — Djamari Chaniago, Menko Polkam, 3 Juli 2026
Kemenko Polkam menyatakan terus berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan kementerian/lembaga terkait untuk mendorong proses penyelidikan serta penegakan hukum terhadap pelaku. Pemerintah Amerika Serikat, melalui keterangan yang dikutip BBC, menyatakan pihaknya terus berkomunikasi dengan otoritas Indonesia terkait insiden tersebut. Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto menegaskan TNI akan bertindak sesuai Rules of Engagement, sembari mengimbau anggota TPNPB-OPM menghentikan aksi kekerasan dan meletakkan senjata. Ketegangan bersenjata semacam ini turut menambah rentetan insiden serupa di Papua, sebagaimana kasus penembakan pilot dan kopilot Smart Air pada Februari 2026 di Boven Digoel, dan bergema di tengah dinamika hubungan luar negeri Indonesia dengan sejumlah negara mitra, termasuk pertemuan tingkat tinggi Presiden Prabowo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang turut menyinggung isu keamanan kawasan.
Apa Selanjutnya?

Koops TNI Habema bersama Polri masih memburu milisi TPNPB Kodap XVI Yahukimo yang bertanggung jawab atas insiden ini, sembari memperketat pengamanan bandara perintis di wilayah pedalaman Papua. TPNPB-OPM sendiri meminta Presiden Prabowo Subianto membuka ruang perundingan internasional untuk membahas akar konflik Papua yang menurut mereka telah berlangsung 64 tahun.
Sejumlah anggota DPR mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan penerbangan perintis di Papua, bukan sekadar penambahan jumlah personel di lapangan. Isu keamanan penerbangan di wilayah konflik ini turut menjadi sorotan di tengah dinamika diplomasi Indonesia dengan mitra internasional lain, termasuk konteks pembicaraan Amerika Serikat dan Iran di Islamabad yang menyoroti bagaimana insiden keamanan lintas negara kerap membutuhkan penanganan diplomatik berlapis.
