Serangan Iran Meluas ke Negara Teluk, Babak Baru Iran vs AS di Juli 2026

serangan iran

·

,

meeshilgersSerangan Iran ke negara Teluk memasuki fase baru yang jauh lebih kompleks. Konflik yang sebelumnya terlihat seperti adu kekuatan langsung antara Iran dan Amerika Serikat kini mulai menyeret negara-negara tetangga ke dalam pusaran serangan rudal, drone, peringatan keamanan, serta ketidakpastian ekonomi.

Pada 12 Juli 2026, Iran dilaporkan melancarkan serangan ke sejumlah negara di kawasan Teluk setelah Amerika Serikat kembali menggempur berbagai sasaran militer di wilayah Iran. Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab menghadapi ancaman berbeda, mulai dari rudal yang dicegat sistem pertahanan udara hingga drone yang dilaporkan menyasar fasilitas strategis.

Situasinya terasa seperti konflik yang awalnya berada di dalam satu ruangan, lalu tiba-tiba menjebol seluruh pintu rumah. Negara-negara Teluk yang sebelumnya berusaha menjaga posisi diplomatik kini semakin sulit berdiri di pinggir lapangan. Keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka membuat negara-negara tersebut ikut dipandang sebagai bagian dari struktur kekuatan Washington di Timur Tengah.

Perkembangan ini juga membuat istilah “Iran vs AS” terasa terlalu sederhana. Yang sedang terjadi bukan hanya duel dua negara, tetapi pertarungan mengenai jalur pelayaran, pangkalan militer, perdagangan energi, pertahanan udara, dan masa depan tatanan keamanan Teluk.

Serangan Iran Meluas Setelah AS Kembali Menggempur Iran

Gelombang serangan terbaru tidak muncul begitu saja. Ketegangan kembali meningkat setelah kapal komersial berbendera Siprus diserang di kawasan Selat Hormuz. Kapal tersebut mengalami kerusakan serius dan terbakar sehingga awaknya harus meninggalkan kapal.

Amerika Serikat kemudian melancarkan serangan balasan terhadap Iran. Associated Press melaporkan bahwa Washington menyerang sejumlah fasilitas Iran setelah menuduh Teheran bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal komersial tersebut. Tidak lama setelah itu, Iran membalas dengan menyerang target-target di beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi keberadaan pasukan atau fasilitas militer Amerika Serikat.

Serangan itu menunjukkan perubahan pola yang cukup signifikan. Iran tidak hanya membalas langsung ke wilayah atau aset militer Amerika, tetapi juga menekan jaringan regional yang selama ini menopang operasi AS.

Dalam beberapa gelombang sebelumnya pada 7 dan 8 Juli 2026, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengaku telah menyerang sekitar 170 sasaran militer Iran. Pada 7 Juli, AS menyerang lebih dari 80 target. Sehari kemudian, sekitar 90 target tambahan digempur, termasuk sistem pertahanan udara, radar pantai, fasilitas penyimpanan rudal dan drone, kemampuan angkatan laut, serta infrastruktur logistik.

Serangan lanjutan pada 12 Juli dilaporkan lebih luas. Berdasarkan laporan AP, AS menyatakan telah menyerang sekitar 140 lokasi Iran untuk mengurangi kemampuan Teheran mengganggu pelayaran sipil di Selat Hormuz. Iran kemudian merespons dengan serangan terhadap Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Oman.

Konflik ini akhirnya bergerak dalam pola yang cukup mudah dibaca, tetapi sangat sulit dihentikan. Iran menyerang kapal atau fasilitas yang dianggap berhubungan dengan tekanan Amerika. AS membalas dengan menghantam fasilitas militer Iran. Iran kemudian menyerang pangkalan atau aset AS di negara lain.

Setiap pihak menyebut tindakannya sebagai respons. Masalahnya, ketika semua pihak merasa sedang membalas, tidak ada satu pun yang merasa menjadi pihak pertama yang harus berhenti.

Negara Teluk Mana Saja yang Menjadi Sasaran?

Tidak semua negara menghadapi jenis ancaman yang sama. Ada negara yang melaporkan rudal masuk, ada yang menghadapi drone, sementara negara lain meningkatkan status siaga karena keberadaan fasilitas militer Amerika di wilayahnya.

NegaraBentuk ancaman yang dilaporkanKepentingan strategis
BahrainRudal dan drone serta sirene peringatanLokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS
KuwaitRudal dan drone yang dicegatMenjadi lokasi berbagai fasilitas dan pasukan AS
QatarRudal menuju wilayah strategis dan serpihan pencegatanLokasi Pangkalan Udara Al Udeid
OmanSerangan drone dan ancaman terhadap jalur pelayaranBerdekatan dengan Selat Hormuz dan jalur laut utama
Uni Emirat ArabAktivasi sistem pertahanan udara terhadap rudal dan dronePusat perdagangan, penerbangan, logistik, dan mitra keamanan AS
YordaniaKlaim serangan terhadap fasilitas yang terkait ASMenjadi lokasi penempatan pasukan dan kemampuan udara AS

Tabel tersebut menggambarkan satu hal penting: sasaran Iran bukan dipilih secara random. Sebagian besar negara itu memiliki hubungan keamanan erat dengan Amerika Serikat atau menjadi lokasi kehadiran militer Washington.

Bahrain dan Armada Kelima AS

Bahrain menjadi salah satu titik paling sensitif karena menjadi lokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat. Armada tersebut bertanggung jawab atas operasi maritim AS di Teluk Persia, Laut Arab, Teluk Oman, Laut Merah, dan sejumlah kawasan sekitarnya.

Dalam perkembangan 8–9 Juli, sirene terdengar di Bahrain setelah Iran diklaim meluncurkan serangan balasan atas gempuran Amerika. Serangan terbaru kembali menempatkan Bahrain dalam situasi darurat meskipun sebagian proyektil dilaporkan berhasil dicegat.

Bagi Iran, menekan Bahrain berarti mengirim pesan langsung kepada struktur kekuatan maritim Amerika. Namun bagi pemerintah Bahrain, situasinya jauh lebih rumit. Negara tersebut harus mempertahankan kerja sama dengan AS sekaligus melindungi wilayah sipilnya dari konsekuensi konflik.

Qatar dan Pangkalan Al Udeid

Qatar menjadi titik strategis karena Pangkalan Udara Al Udeid merupakan salah satu fasilitas militer AS paling penting di kawasan. Pangkalan tersebut selama bertahun-tahun menjadi pusat operasi udara dan koordinasi militer Amerika di Timur Tengah.

Dalam serangan 12 Juli, pertahanan udara Qatar dilaporkan mencegat rudal yang memasuki wilayahnya. Serpihan hasil pencegatan dikabarkan melukai tiga orang, termasuk seorang anak. Otoritas Qatar juga mengirimkan peringatan keamanan melalui telepon seluler dan meminta warga menghindari area terbuka selama operasi pencegatan berlangsung.

Situasi ini memperlihatkan bahwa rudal tidak harus mengenai sasaran untuk menimbulkan dampak. Serpihan dari proses intersepsi tetap dapat jatuh ke kawasan permukiman, merusak bangunan, mengganggu penerbangan, dan menciptakan kepanikan.

Kuwait Meningkatkan Pertahanan Udara

Kuwait juga dilaporkan menghadapi serangan rudal dan drone. Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya aktif mencegat proyektil yang datang.

Negara ini memiliki hubungan pertahanan dekat dengan Amerika Serikat dan menampung sejumlah fasilitas militer serta personel AS. Secara geografis, Kuwait juga berada dekat Irak dan bagian utara Teluk Persia, menjadikannya salah satu jalur logistik penting bagi operasi militer Amerika.

Kuwait sebenarnya bukan pihak utama dalam konflik Iran dan AS. Namun keberadaan militer Washington membuat wilayahnya ikut masuk ke dalam kalkulasi strategis Teheran.

Oman yang Selama Ini Menjadi Jembatan Diplomasi

Oman memiliki posisi yang paling unik. Negara ini dikenal sering menjadi mediator antara Iran dan negara-negara Barat. Muscat berkali-kali menjadi lokasi komunikasi tidak langsung, negosiasi sensitif, serta pertukaran pesan antara pihak-pihak yang secara resmi tidak memiliki hubungan baik.

Namun dalam eskalasi terbaru, Oman juga dilaporkan menghadapi serangan drone. Kondisi ini menjadi simbol bahwa status sebagai mediator tidak otomatis memberikan perlindungan ketika konflik telah melebar.

Oman juga menguasai bagian penting perairan di sekitar Selat Hormuz. Artinya, setiap gangguan keamanan di wilayah Oman bisa langsung memengaruhi lalu lintas kapal internasional.

Uni Emirat Arab Mengaktifkan Sistem Pertahanan

Uni Emirat Arab dilaporkan mengaktifkan pertahanan udaranya untuk menghadapi rudal dan drone yang datang. Ledakan juga terdengar di sejumlah wilayah ketika sistem intersepsi beroperasi.

UAE adalah salah satu pusat perdagangan, keuangan, penerbangan, dan logistik terbesar di dunia. Dubai dan Abu Dhabi selama ini menjual citra stabilitas, keamanan, serta kenyamanan bagi investor global.

Karena itu, ancaman rudal memiliki efek lebih luas daripada sekadar dampak fisik. Bahkan serangan yang berhasil dicegat dapat memengaruhi jadwal penerbangan, premi asuransi, keputusan investasi, harga properti, hingga kepercayaan ekspatriat.

Mengapa Iran Menyerang Negara yang Menjadi Tuan Rumah Pasukan AS?

Dari sudut pandang Iran, pangkalan militer AS di negara Teluk bukanlah fasilitas yang berdiri sendiri. Teheran melihatnya sebagai bagian dari sistem militer Amerika yang dapat digunakan untuk menyerang wilayah Iran.

Logikanya kurang lebih seperti ini: apabila pesawat, radar, sistem pertahanan, kapal, atau pasukan Amerika beroperasi dari negara tertentu, maka fasilitas tersebut dianggap ikut mendukung operasi AS.

Iran tampaknya ingin membuat biaya kehadiran militer Amerika di Timur Tengah menjadi semakin mahal. Bukan hanya mahal bagi Washington, tetapi juga mahal secara politik bagi negara tuan rumah.

Dengan meluncurkan rudal ke fasilitas AS di kawasan, Teheran seperti sedang mengirim pesan kepada pemerintah Teluk: bekerja sama dengan Amerika memiliki risiko langsung.

Strategi ini dapat menciptakan tekanan domestik. Masyarakat di negara Teluk mungkin mulai mempertanyakan apakah kehadiran pasukan asing benar-benar meningkatkan keamanan atau justru menjadikan negaranya target.

Namun strategi tersebut juga berisiko backfire. Alih-alih menjauhkan negara-negara Teluk dari Amerika, serangan Iran justru dapat mendorong mereka memperkuat kerja sama pertahanan dengan Washington.

Pada 25 Juni 2026, Amerika Serikat dan anggota Dewan Kerja Sama Teluk atau GCC kembali menegaskan komitmen terhadap kemitraan keamanan strategis. Dalam pernyataan bersama tersebut, AS menyatakan komitmennya terhadap keamanan negara-negara GCC.

Dengan kata lain, Iran ingin meretakkan hubungan AS dan negara Teluk, tetapi tindakannya juga bisa membuat hubungan itu semakin solid.

Selat Hormuz Kembali Menjadi Pusat Krisis

Kalau konflik Iran dan AS adalah film, Selat Hormuz merupakan lokasi yang hampir selalu muncul di adegan paling intens. Selat sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi jalur utama ekspor minyak dari kawasan.

Menurut U.S. Energy Information Administration, aliran minyak melalui Selat Hormuz pada 2024 dan kuartal pertama 2025 mencakup lebih dari seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut. Jumlah tersebut juga setara dengan sekitar seperlima konsumsi minyak dan produk petroleum global. Sekitar seperlima perdagangan gas alam cair dunia turut melewati jalur ini, terutama pasokan LNG dari Qatar.

Itulah alasan mengapa serangan terhadap satu kapal di Hormuz bisa membuat pasar global langsung tegang. Selat ini bukan sekadar jalan laut biasa. Hormuz merupakan semacam pintu keluar utama bagi energi dunia.

Iran sebelumnya menyatakan memiliki hak mengontrol pelayaran di kawasan tersebut dan mengancam kapal yang dianggap memasuki jalur tanpa izin. Sementara Amerika Serikat menegaskan pentingnya kebebasan navigasi bagi kapal komersial.

Perbedaan tersebut tidak hanya berupa debat hukum atau diplomasi. Kini kapal-kapal dagang benar-benar berada di tengah konflik.

Pada Juni 2026, Washington dan Teheran sebenarnya telah mencapai memorandum kesepahaman untuk menghentikan konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Setelah kesepakatan 18 Juni itu, lalu lintas kapal mulai meningkat dan EIA sempat menaikkan perkiraan produksi minyak global.

Namun serangkaian serangan terhadap kapal komersial pada akhir Juni dan awal Juli membuat kesepakatan itu terlihat sangat rapuh. Harapan stabilisasi yang baru tumbuh beberapa minggu langsung seperti di-reset kembali ke awal.

Apakah Ini Sudah Menjadi Perang Regional?

Secara teknis, istilah perang regional masih diperdebatkan. Tidak semua negara Teluk menyatakan perang terhadap Iran. Sebagian besar justru mengatakan mereka hanya mempertahankan wilayah udara dan kedaulatan nasional.

Namun kalau dilihat dari skala geografis, jumlah negara terdampak, serta keterlibatan fasilitas militer asing, konflik ini jelas tidak lagi bersifat bilateral.

Rudal dan drone telah melintasi banyak wilayah. Kapal komersial dari berbagai negara menghadapi risiko. Pangkalan Amerika di beberapa negara menjadi sasaran. Sistem pertahanan udara regional bekerja secara simultan.

Ini adalah ciri konflik regional, meskipun pemerintah-pemerintah terkait masih menghindari istilah tersebut.

Iran tampaknya tidak ingin menduduki negara Teluk atau membuka front konvensional terhadap seluruh kawasan. Target utamanya terlihat lebih terbatas, yakni menghantam fasilitas yang berhubungan dengan Amerika dan meningkatkan daya tawar Teheran.

Namun rudal tidak selalu mengikuti batas politik. Kesalahan navigasi, kegagalan intersepsi, serpihan yang jatuh, atau informasi intelijen yang keliru dapat mengubah serangan terbatas menjadi bencana besar.

Satu proyektil yang mengenai fasilitas sipil dengan korban besar dapat memicu tuntutan balasan. Satu serangan terhadap kilang minyak dapat mengguncang harga energi. Satu rudal yang salah sasaran dapat menyeret negara baru ke dalam peperangan.

Amerika Serikat Menghadapi Dilema Besar

Amerika Serikat berada dalam posisi yang tidak mudah. Washington ingin menjamin kebebasan pelayaran, melindungi pasukannya, dan menunjukkan bahwa serangan terhadap kapal komersial memiliki konsekuensi.

Namun setiap serangan ke Iran membuka kemungkinan pembalasan terhadap pangkalan Amerika di seluruh Timur Tengah.

AS memiliki keunggulan dalam kekuatan udara, teknologi pengintaian, persenjataan presisi, dan kemampuan angkatan laut. Akan tetapi, Iran memiliki keuntungan geografis serta jaringan rudal, drone, kapal kecil, dan sekutu nonnegara yang tersebar di kawasan.

Amerika dapat menghancurkan banyak fasilitas Iran. Tetapi menghentikan seluruh kemampuan Teheran untuk mengganggu Hormuz atau menyerang pangkalan regional adalah persoalan berbeda.

CENTCOM menyatakan serangan pada 7 dan 8 Juli ditujukan untuk menghancurkan radar, penyimpanan rudal, kemampuan laut, pertahanan udara, serta infrastruktur yang digunakan untuk mengancam kapal komersial.

Masalahnya, serangan besar juga bisa meyakinkan Iran bahwa negosiasi tidak lagi berguna. Ketika jalur diplomasi dianggap tidak memberikan keamanan, kelompok garis keras akan lebih mudah mendorong aksi militer lanjutan.

Negara Teluk Berada di Posisi Serba Salah

Negara-negara Teluk selama bertahun-tahun mencoba menjalankan dua strategi sekaligus. Mereka mempertahankan hubungan keamanan dengan Amerika, tetapi juga membangun komunikasi ekonomi dan diplomatik dengan Iran.

Strategi tersebut cukup masuk akal. Amerika menyediakan perlindungan militer, teknologi pertahanan, serta akses persenjataan modern. Sementara Iran adalah tetangga besar yang secara geografis tidak bisa dipindahkan.

Namun konflik terbaru membuat keseimbangan itu semakin sulit.

Jika negara Teluk terlalu mendukung Amerika, mereka berisiko menjadi target Iran. Jika menjauh dari Washington, mereka dapat kehilangan perlindungan keamanan yang selama ini menjadi fondasi pertahanan regional.

Bahkan negara yang tidak memberikan izin langsung untuk serangan AS tetap dapat terkena dampak karena keberadaan pangkalan, radar, personel, atau kerja sama intelijen.

Situasinya seperti memiliki tetangga yang sedang bertengkar hebat, tetapi salah satu pihak menyimpan kendaraannya di halaman rumah kita. Walaupun kita tidak ikut memukul, rumah kita tetap bisa terkena lemparan.

Dampak Konflik terhadap Ekonomi Dunia

Dampak paling cepat dari eskalasi biasanya muncul pada harga minyak, biaya pelayaran, dan premi asuransi kapal.

Perusahaan pelayaran akan menghitung ulang risiko melewati Hormuz. Kapal mungkin menunggu lebih lama, mengurangi perjalanan, atau meminta jaminan keamanan tambahan. Perusahaan asuransi juga dapat menaikkan premi untuk pelayaran ke Teluk Persia.

Ketika biaya transportasi energi naik, efeknya merambat ke banyak sektor. Harga bahan bakar meningkat, ongkos logistik bertambah, tiket pesawat menjadi lebih mahal, dan biaya produksi industri ikut terdorong.

EIA sebelumnya memperkirakan harga Brent dapat bertahan di atas 95 dolar AS per barel selama dua bulan ketika penutupan Hormuz mengganggu pasokan. Lembaga tersebut saat itu memperkirakan harga bisa turun setelah jalur pelayaran kembali normal.

Masalahnya, normalisasi itu kini kembali terancam. Pasar mungkin belum langsung bereaksi ekstrem apabila kapal masih dapat melewati jalur alternatif di perairan Oman. Namun ketidakpastian saja sudah cukup untuk menciptakan volatilitas.

Qatar juga menjadi perhatian karena merupakan salah satu eksportir LNG terbesar dunia. Gangguan terhadap pelayaran gas dari Qatar dapat memengaruhi pembeli di Asia dan Eropa.

Bagi Indonesia, dampaknya dapat terasa melalui harga minyak mentah, nilai tukar rupiah, biaya impor BBM, subsidi energi, serta kenaikan ongkos logistik. Indonesia memang bukan pihak dalam konflik, tetapi ekonomi global tidak mengenal istilah “bukan urusan kita” ketika jalur energi utama terganggu.

Diplomasi Masih Ada, tetapi Ruangnya Makin Sempit

Jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Oman, Qatar, dan sejumlah negara lain masih memiliki kemampuan komunikasi dengan kedua pihak.

Namun ruang negosiasi semakin sempit karena setiap serangan menciptakan tekanan politik baru. Pemerintah AS harus menjawab tuntutan untuk melindungi pasukan dan kapal komersial. Pemerintah Iran juga harus menunjukkan bahwa serangan terhadap wilayahnya tidak dibiarkan tanpa balasan.

Kesepakatan gencatan atau memorandum sebelumnya terbukti tidak cukup kuat untuk mencegah bentrokan baru. Ini menunjukkan bahwa persoalan utama belum selesai.

Kedua pihak masih berbeda pandangan tentang siapa yang berhak mengontrol keamanan Hormuz, bagaimana kapal diperiksa, apa batas aktivitas militer AS, serta bagaimana sanksi terhadap Iran akan diperlakukan.

Tanpa mekanisme pengawasan yang jelas, kesepakatan dapat runtuh hanya karena satu kapal, satu drone, atau satu tuduhan pelanggaran.

Diplomasi dalam situasi seperti ini bukan sekadar mempertemukan pejabat di ruangan ber-AC. Negosiasi harus menciptakan aturan operasional yang sangat detail, termasuk jalur pelayaran, komunikasi militer, zona larangan serangan, prosedur pemeriksaan kapal, serta mekanisme investigasi insiden.

Skenario yang Mungkin Terjadi Selanjutnya

Skenario pertama adalah konflik terus berlangsung dalam pola serang dan balas yang terbatas. Amerika menyerang fasilitas militer Iran, sementara Iran membalas ke pangkalan AS atau kapal di kawasan. Kedua pihak menahan diri agar tidak menimbulkan korban terlalu besar.

Skenario kedua adalah munculnya gencatan senjata baru. Oman atau Qatar dapat berperan sebagai perantara untuk menghentikan serangan sementara dan membuka kembali jalur pelayaran secara penuh.

Skenario ketiga merupakan opsi paling berbahaya, yakni serangan salah sasaran yang menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar. Peristiwa semacam itu dapat memaksa salah satu negara Teluk ikut melakukan tindakan militer langsung.

Skenario keempat adalah perluasan konflik melalui kelompok sekutu Iran di Irak, Suriah, Lebanon, atau Yaman. Jika kelompok-kelompok tersebut meningkatkan serangan terhadap kepentingan AS, Israel, atau negara Teluk, jumlah front akan bertambah.

Saat ini, skenario perang total belum menjadi kepastian. Namun risikonya jelas lebih besar dibanding beberapa minggu sebelumnya.

Babak Baru Iran vs AS yang Tidak Lagi Punya Batas Jelas

Serangan Iran ke negara Teluk memperlihatkan bahwa konflik Iran vs AS telah masuk ke babak yang lebih berbahaya. Batas antara wilayah tempur, negara transit, pangkalan militer, dan jalur perdagangan semakin kabur.

Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, Uni Emirat Arab, serta negara lain di kawasan kini harus menghadapi kenyataan bahwa hubungan keamanan mereka dengan Amerika dapat menjadikan wilayah mereka bagian dari medan konflik.

Iran menggunakan rudal, drone, tekanan terhadap pelayaran, dan ancaman terhadap fasilitas regional untuk meningkatkan biaya yang harus dibayar Amerika. Sebaliknya, Washington menggunakan kekuatan udara dan laut untuk merusak kemampuan militer Iran.

Di tengah adu kekuatan tersebut, negara Teluk, awak kapal, pekerja migran, penumpang pesawat, serta masyarakat sipil menjadi kelompok yang paling tidak memiliki kendali.

Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah konflik telah meluas. Jawabannya sudah terlihat dari banyaknya negara yang mengaktifkan sirene dan pertahanan udara.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah para pihak masih memiliki cukup kontrol untuk menghentikan perluasan itu sebelum satu kesalahan kecil berubah menjadi perang regional berskala penuh.

Referensi

Associated Press, “US attacks Iran over ship being hit in Strait of Hormuz; Tehran responds by hitting Gulf Arab states”, 12 Juli 2026:
https://apnews.com/article/iran-usa-united-arab-emirates-attack-0764d17c09370a8c5cf1e8197a8878ab

Associated Press, “US launches new airstrikes on Iran, with Tehran firing back at Gulf Arab states”, 8 Juli 2026:
https://apnews.com/article/iran-us-israel-war-oil-july-8-2026-fee04dcea661c08de12c04914ff2751b

U.S. Central Command, “U.S. Forces Complete New Round of Retaliatory Strikes Against Iran”, 7 Juli 2026:
https://www.centcom.mil/MEDIA/PUBLIC-RELEASES/Article/4535772/us-forces-complete-new-round-of-retaliatory-strikes-against-iran/

U.S. Central Command, “U.S. Forces Complete Another Round of Strikes Against Iran”, 8 Juli 2026:
https://www.centcom.mil/MEDIA/PUBLIC-RELEASES/Article/4538814/us-forces-complete-another-round-of-strikes-against-iran/

U.S. Energy Information Administration, “Amid regional conflict, the Strait of Hormuz remains critical oil chokepoint”, 2025:
https://www.eia.gov/todayinenergy/detail.php?id=65504

U.S. Energy Information Administration, “Short-Term Energy Outlook: Global Oil Markets”, Juli 2026:
https://www.eia.gov/outlooks/steo/report/global_oil.php

U.S. Department of State, “Joint Statement Following the Ministerial Meeting of the United States and the Gulf Cooperation Council”, 25 Juni 2026:
https://www.state.gov/releases/office-of-the-spokesperson/2026/06/joint-statement-following-the-ministerial-meeting-of-the-united-states-and-the-gulf-cooperation-council-gcc/

Al Jazeera, “US conducts new wave of strikes on Iran as ceasefire falters”, 8 Juli 2026:
https://www.aljazeera.com/news/2026/7/8/us-says-conducting-new-wave-of-strikes-on-iran-as-ceasefire-falters-2

The Guardian, “Iran attacks Gulf countries following fresh US strikes”, 12 Juli 2026:
https://www.theguardian.com/world/live/2026/jul/12/iran-gulf-us-strikes-jordan-qatar-uae-strait-hormuz-latest-news-updates-live